Manado, kpud-lumajangkab.go.id – Konsolidasi Regional (Konreg) II yang diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara memasuki hari kedua, Jumat (13/9).

Di hari kedua, peserta Konreg Peningkatan Parmas Gelombang II mendapatkan materi mengenai strategi sosialisasi pendidikan pemilih untuk menangkal hoaks dalam Pemilu 2020 dari perspektif hukum dan politik.

Materi disampaikan oleh Prof. Dr. H. Henry Subiakto, Guru Besar FISIP Universitas Airlangga yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika RI Bidang Hukum.

Dalam materinya, Henry mengatakan bahwa hoaks dan ujaran kebencian itu ibarat narkoba.

“Ada yang produksi, ada yang distribusi, ada yang butuh dan ketagihan. Korban sulit disadarkan, padahal merusak mental, cara berpikir, dan bahayakan bangsa,” terang Henry.

Henry juga menjelaskan bahwa hoaks dan ujaran kebencian merupakan fenomena komunikasi di era digital khususnya di dunia politik.

“Siapapun bisa jadi pemroduksi pesan, jadi wartawan, pengamat. Orang sekarang hanya bisa terpisah 7 menit dari HP-nya dan menghabiskan minimal 3-4 jam sehari terkoneksi internet,” tambah Henry.

Henry menyebut bahwa masyarakat saat ini sudah ketergantungan dengan internet dan isinya.

“Sayangnya, banyak konten negatif di dalam internet, khususnya media sosial, yang sangat berpengaruh kepada Netizen,” jelas Henry.

Di akhir materinya, Henry berpesan agar peserta Konreg II Manado ini bisa turut andil dalam menolak hoaks. 

“Apalagi di tahun 2020 mendatang, beberapa wilayah di Indonesia akan menggelar Pilkada. Jadi penanganan berita hoaks itu sangat penting,” ujarnya.

Henry juga berharap agar sanksi hukum UU ITE dan UU lain kepada pembuat maupun penyebar berita hoaks dapat dipertegas kembali. (hes)