Manado, kpud-lumajangkab.go.id – Konsolidasi Regional (Konreg) Peningkatan Parmas Gelombang II mengajak KPU Se-Indonesia untuk melakukan upaya menangkal hoaks, Jumat (13/9).

Ajakan tersebut disampaikan oleh salah satu pemateri Konreg Peningkatan Parmas gelombang II, Taufiq Pasiak.

Pemateri yang berprofesi sebagai dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UNSRAT Manado itu menjelaskan pengertian dan upaya menghadapi berita hoaks dari perspektif ilmu otak.

“Berita hoaks hanya akan bekerja ketika orang terancam untuk membuat keputusan saat otak tidak bekerja secara sempurna. Oleh karena itu, penyelenggara pemilu harus mampu memakai insting dan mampu mengelola emosi secara stabil dan tidak mudah terpengaruh berita hoaks,” jelas Pasiak, panggilan akrabnya.

Untuk menghadapi berita hoaks, Pasiak memberikan algoritma yang disebut sebagai Tapak Predisposisi Hoaks.

Algoritma tersebut terdiri dari 7 pertanyaan kritis memastikan kemungkinan infeksi hoaks.

Tujuh pertanyaan tersebut antara lain:

1. Apakah informasi itu langsung menarik perhatian saya, seperti terpaku, tanpa saya sadari?

2. Apakah saya secara serta menolak atau menerima informasi itu?

3. Apakah saya merasa senang atau takut secara tidak lazim  terhadap informasi itu?

4. Adakah saya membaca informasi itu secara sepintas saja?

5. Apakah saya mudah memercayai orang?

6. Apakah ada dorongan serta merta (cepat) untuk menyebarkan atau menghapus informasi itu, terutama dalam kelompok saya?

7. Apakah saya orang yang cepat mengambil kesimpulan atas sesuatu?

Di akhir penjelasannya, Pasiak menyampaikan bahwa KPU sebagai pihak penyelenggara Pemilu hendaknya mampu membangun imunitas personal maupun kelompok terhadap berita hoaks. (hes)